BAB II: LEGENDA TOBA-SAMOSIR

Tinggalkan komentar

Februari 18, 2012 oleh Hesperonesia

Plato menulis bahwa kehidupan manusia di awali dari dua komunitas yang tidak saling bercampur, masing-masing dengan tradisinya sendiri-sendiri, tidak ada perselisihan, dan hidup dengan damai. Sementara mitologi Batak mengawali kehidupan para leluhur justru ketika dua komunitas yang berbeda tersebut bertemu di sungai, dengan menggunakan simbol ikan dan sepasang manusia. Simbol-simbol ini juga umum di dalam mitologi Oceania seperti di Borneo, Filipina, Maluku, Melanesia, Polinesia, Micronesia, dan Australia (Dixon).

Ceritanya di awali dari Toba yang tinggal di wilayah kering dan gersang, pergi ke sungai untuk memancing ikan. Beberapa lama kemudian tiba-tiba kail (atau jala) Toba menarik dirinya, dan dengan sigap, ia langsung berusaha menahan. Tetapi kail itu terasa berat hingga adu tarik-ulur pun terjadi. Akhirnya Toba berhasil memancing keluar ikan itu dan yang dilihatnya adalah Ihan atau Dekke (ikan besar). Ikan itu langsung di masukkan ke dalam wadah lalu dibawanya pulang. Toba kemudian pergi mencari dahan dan kayu untuk memasak. Setelah kembali, ajaibnya, ada makanan yang siap untuk di santap di dalam rumahnya. Ia pun melahap makanan itu hingga habis. Makanan itu tersedia lagi di hari berikutnya, dan besoknya lagi, hingga suatu hari akhirnya Toba mengetahui juga bahwa yang menyediakan makanan adalah seorang gadis yang ternyata perwujudan dari ikan yang dulu pernah ia tangkap dan sudah ia taruh ke dalam wadah. Keduanya lalu menikah dan keturunan-keturunan mereka merupakan leluhur manusia (rincian yang mirip juga terdapat di legenda Borneo dan Filipina [Dixon].

Simbol perkawinan Toba-Dekke melahirkan komunitas-komunitas baru yang di gambarkan sebagai kurir, pembawa berita, mediator, atau orang-tengah. Meski begitu, komunitas baru ini bukanlah komunitas yang bijak, mungkin karena itu pula di simbolkan sebagai ‘anak’ (tidak dewasa dalam pemikiran), dan tidak mau menuruti tradisi yang di turunkan orang-tuanya. Populasi mereka terlalu banyak dan menghabiskan segala sesuatunya (di dalam legenda kadang si anak di sebut ‘tidak pernah kenyang’ atau ‘si rakus’). Akhirnya terjadi perselisihan hingga peperangan antara generasi lama dengan generasi baru, antara si anak dan ayahnya, sehingga timbul bencana air bah yang memusnahkan segalanya, dan wujud sang ibu kembali seperti  semula, seekor ikan.

  Image

Genealogi Batak

Apa yang terjadi jika ikan tersebut tersangkut pancing kembali? Tradisi Batak menyuguhkan cerita yang serupa, bedanya, anak yang di lahirkan mempunyai tiga variasi atau tiga kelahiran;  seorang putri, dua orang putri, dan seorang putra (Samosir). Mirip legenda Indian Hopi yang mempunyai satu kisah kehidupan manusia yangg berulang hingga tiga kali. Tiga kelahiran tersebut tidak harus berurut, bebas, karena meski mewakili tiga kehidupan yang berbeda, tetapi mempunyai alur cerita yang sama yaitu sama-sama menggunakan simbol ‘ikan dalam wadah’ atau Ihan (Pisces) dan Hudon (Aquarius), dan sama-sama berujung dengan perselisihan dan bencana.

Kisah Toba yang paling umum di gunakan adalah Samosir yang juga mempunyai siklusnya tersendiri (Samosir I dan Samosir II). Kelahiran Samosir berada di kehidupan baru di tandai dengan perubahan profesi Toba yang awalnya sebagai pemancing ikan, sekarang menjadi ahli ladang. Sementara Samosir dari kecil telah di didik menjadi kurir dan pembawa berita. Tugasnya mengantar makanan yang telah di siapkan oleh ibunya kepada ayahnya dengan tepat waktu. Pada suatu hari Samosir sebenarnya melakukan rutinitas seperti biasanya, hanya saja ia terlalu asyik bermain hingga kelaparan lalu melahap makanan ayahnya (variasi lain menyebut Samosir jatuh atau terpeleset). Meski begitu, ia tetap mendatangi ayahnya.

Mungkin karena emosi bercampur lapar, murka sang ayah sudah tak terbendung lagi ketika melihat isi bekal makanannya hanya berupa sisa-sisa. Karena hilang kesabaran, Toba lupa dahulu ia pernah berjanji kepada istrinya bahwa ia tidak akan pernah menyebut putra mereka sebagai “anak-ikan” atau “anak-dekke”. Janji itu di langgarnya, dan Samosir sambil menangis langsung pulang ke rumah dan mengadu apa yang telah di ucapkan Toba kepada ibunya. Maka meneteslah air mata sang ibu, dan bertepatan dengan itu petir menyambar-nyambar dan hujan turun dengan derasnya. Samosir ia perintah lari ke puncak yang paling tinggi lalu menyaksikan bagaimana hujan turun tiada henti menenggelamkan segalanya. Ibu Samosir sendiri kembali lagi wujudnya seperti semula, menjadi seekor ikan.

Dalam kisah Samosir II sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Di sini Toba, setelah berhasil menangkap ikan, pulang ke rumah dan langsung pergi ke dapur mengambil pisau untuk memotong ikan. Tiba-tiba saja ikan tersebut menjelma menjadi seorang gadis dan sisik-sisik ikan terbuat dari emas bertebaran ke lantai (ada versi yang menyebut si gadis sedang memandang cermin sambil menyisir rambut panjangnya kemudian meminta Toba untuk menyalakan lampu-minyak). Gadis itu lalu menyuruh Toba untuk menjual emas itu. Setelah emas itu di jual lalu Toba menikahi gadis tersebut. Setelah Samosir lahir, Toba berubah profesi menjadi seorang petani, kemudian Samosir yang pergi mengantar makanan bertemu teman sebaya lalu keduanya di gambarkan terlalu asik bermain bola hingga Samosir merasa kelaparan, lalu menyantap makanan ayahnya, di marahi ayahnya, dan seterusnya.

Perhatikan, selain adanya penyisipan unsur-unsur logam, ada banyak sekali komunitas lain di kisah Samosir II , artinya Toba dan istrinya, sebagai simbol api-air telah ‘berinteraksi’ berkali-kali, dan melahirkan samosir-samosir baru, komunitas-komunitas baru, dengan inovasi-inovasi baru. Ada petani, pedagang, penempa, pengrajin, penambang, permainan bola sepak (mungkin takraw), kesemuanya berbaur menjadi satu yang tentunya menggiring ke bencana yang sama, status yang sama (anak-ikan), dan hikmah yang sama.

Hikmah dari kisah Toba-Samosir, termasuk siklus-siklusnya, adalah Dalihan na Tolu atau Tolu Sahundulan (Toraja: “Tiga Batu Tungku”, Mamasa; “Lalikan”, Buijs) yang artinya tiga dudukan batu tungku yang sejajar. Jika salah satu batu lebih menonjol, lebih rendah, lebih rapuh, maka tidak bisa di gunakan untuk memasak (tumpah). Tolu merupakan filosofi hidup leluhur tentang kebersamaan, sebuah sistem demokrasi terawal seperti layaknya ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ atau ‘torang samua basudara’ atau ‘bhineka tunggal ika’. Ironisnya tiap-tiap legenda Batak, yang mewakili jaman yang berbeda-beda tersebut, selalu di akhiri dengan filosofi yang sama, bahkan masih terus di kumandangkan hingga sekarang ini.

Dalihan na Tolu tidak saja berlaku antar sesama manusia tetapi juga manusia dengan alam sekitarnya. Jika anda jeli, iklim sudah memegang peranan besar di dalam kisah Toba. Sedari awal sudah di ceritakan keadaan bumi yang kering dan gersang, lalu ketika perseteruan antara dua generasi tersebut di mulai, tiba-tiba terjadi perubahan iklim yang sebenarnya menggembirakan ‘suara petir dan hujan membasahi bumi’, musim hujan yang di tunggu-tunggu telah datang. Akan tetapi lamanya musim kering sepertinya sama dengan lamanya musim hujan. Hujan itu tidak kunjung berhenti hingga bencana air bah pun melanda bumi. Tidak banyak kisah-kisah bencana air bah yang juga menggambarkan perubahan iklim, beberapa di antaranya terdapat dalam rumpun Indo-Eropa seperti kisah air bah Manu (musim kering berkepanjangan) dan kiamat Ragnarök (Fimbulwinter; “musim dingin berkepanjangan”). Dalam titik tertentu juga mengarah ke kalender panjang Maya (kalender 13 Baktun) yang secara rinci menyebut adanya perubahan-perubahan iklim ekstrim menjelang pergantian kalender yang baru.

Dayak yang mempunyai kisah yang mirip, berpantang memakan ikan tertentu terkait dengan kisah leluhur tersebut (Oppenheimer). Sementara ikan oleh bangsa Maya dikurbankan sebagai pengingat akan “Kehidupan Pertama” berdasarkan murral berusia 100 SM (Roach). Ikan adalah simbol kehidupan dunia bawah (watery underworld) Maya.

———————————————————————————————————————————————–

REFERSENSI:

Roland.B. Dixon: “Oceanic Mythology” (1906)

Kees Buijs: “Kuasa Berkat Dari Belantara dan Langit” Struktur dan Trasformasi Agama Orang Toraja di Mamasa Sulawesi Cetakan I 2009 Penerjemah: Ronald Arulangi-KITLV Jakarta

Stephen Oppenheimer: “Eden in the East” (1998)

John Roach:”Oldest Known Maya Mural” (news.nationalgeographic.com/news/2005/12/1213_051213_maya_mural.html)

(news.nationalgeographic.com/news/2005/12/1213_051213_maya_mural_2.html)

hopi mythology – wikipedia

yuk

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: