BAB III: ARTI BATAK

8

Februari 24, 2012 oleh Hesperonesia

Kata Toba dan Bata (Batak) sama-sama menggunakan dua kata dasar yang sama hanya di balik saja yaitu Tao-Bah dan Bah-Tao. Kata ba/bah mengandung arti dualisme ‘bah-agia’ dan ‘bah-aya’. Yang membahagiakan adalah ba/bua/bue (‘buah-buahan’) dan yang membahayakan adalah bah (musibah, air-bah, bencana). Sementara kata ta/tao mengarah ke poros, pusat, danau. Baik Bata ataupun Toba bisa menjadi wilayah surgawi sekaligus pusat bencana.

Sementara untuk manusianya sendiri bisa berarti ‘manusia-surgawi’ sekaligus ‘manusia yang selamat dari bencana’ karena di dalam rumpun bahasa Hesperonesia kata yang berhubungan dengan to, ito, tu, tau, tao, thao, taw, tawu, umumnya memang berhubungan dengan manusia, seperti Toar (To’ar, To-Ra) Minahasa artinya ’manusia-matahari’, begitu pula kata Toraja atau Toraya, tidak jauh berbeda, kemudian Tu dalam bahasa Maori artinya; manusia atau umat manusia. Menurut tradisi Maori Tu adalah nama dewa perang dan umat manusia adalah keturunannya. Manusia oleh Hawaii di sebut Ku mengarah ke ‘aku’ dalam khasanah bahasa Indonesia. Jika kata Tora di balik tetap berhubungan dengan manusia-matahari seperti Ratu atau Latu gabungan dari kata Ra (matahari) dan Tu (manusia) yang kita ketahui sebagai gelar pemimpin pria atau wanita di berbagai tradisi Austronesia (ratu, latu, datu).

Istilah Hesperonesia saya salin dari penelitian yang di lakukan Bernd Nothofer dalam sebuah rekonstruksi bahasa-bahasa pra-sejarah kepada 30 bahasa dominan di Nusantara. Menurutnya Batak, Nias, Gayo, Simalur, Mentawai, dan Enggano, merupakan yang tersisa dari bahasa-bahasa budaya kuno di wilayah Sundaland-Barat. Ia lalu menghubungkannya dengan yang tersisa di Sundaland-Timur seperti Sulawesi Utara, Filipina Selatan, dan Borneo Utara (Embaloh, Kayan). Secara keseluruhan yang tersisa dari Sundaland ini ia sebut Hesperonesia Kuno atau Paleo-Hesperonesia (Oppenheimer). Ahli genetik, Stephen Oppenheimer, kemudian melebarkan rumpun Hesperonesia Kuno ini hingga ke Borneo timur, timur laut, termasuk para “gipsi laut” yang tersebar luas di Asia Tenggara (suku Baju, Bajo, Bajau, Bajo-Laut, Sama-Bajau).

Arti kata Batak yang paling umum di gunakan adalah; pengembara, petualang, warna bata (kemerahan), dan batang (jalur, arus, badan, tubuh, sungai, pohon, buah, biji). Jadi Batak merupakan pengembara atau petualang yang mencari tanah subur (merah), alur sungai, dan pepohonan. Pengembaraan ini berdasarkan ‘jalur-matahari’ atau ‘pengembaraan-matahari’ atau bata-ra atau raja-bata (raya-bata). Dengan tambahan kata Guru di belakang Batara maka menjadi ‘pengembaraan matahari sebagai guru (penuntun)’.

Matahari

Bahasa

Ra

Māori

Araw

Tagalog

Ari/Are

Toba, Minahasa

Ra’a

Rapa Nui (pulau Paskah)

La

Hawaii

Alo

Toraja

rau-*

Sera, Sissano

rato-*

Are’are

  ra, ra’a-*

Oceanik

lara-*

Aru

lea-*

Ambon

Kata ‘guru’ juga sebenarnya berasal ari kata gur mengandung arti panas sekali (gur) atau mendidih (gura), sebutan ini sepertinya untuk satu bintang yang paling terang pada malam hari lebih kita kenal dengan nama Sirius (Yunani: “teramat panas”, “menyala-nyala”). Terlebih lagi Matahari, Bulan, dan bintang Sirius merupakan tiga benda langit utama yang umum di berbagai tradisi dunia.

Sirius sangat penting bagi pelaut-pelaut Polinesia sebagai penuntun ketika mereka menjelajahi samudra Pasifik yang luas itu. Sirius adalah pengganti matahari jika berlayar pada malam hari, di kenal sebagai ‘brenna (obor) Loki’ oleh Skandinavia, A’a (Hawaii), Ta-kuru-a (Maori), Tau-ua (kepulauan Marquesas), dan Rehua (Tahiti dan Salandia Baru). Semuanya mengandung arti sama (panas, menyala, cemerlang, dsb). Tiga bintang ini juga sesuai dengan ‘Tiga-Abadi’ atau siklus tiga karakter pada awal kehidupan (Bapak, Ibu, Anak) seperti Toba (matahari), Dekke (bulan), dan Samosir (Sirius), juga bisa di bandingkan dengan Toar-Suami/ Lumimuut/ Toar-Anak, atau Horus-Tua/ Hathor/ Horus-Anak, atau Eros I/Virgo/Eros II, dan sebagainya.

Sirius (Mesir; Sihor), dalam prosesnya, mengalami perubahan-perubahan dari bintang yang yang paling ‘panas’ menjadi konstelasi berbentuk runcing (Mesir; Sopdet, Yunani; Sothis), panah, busur-panah, pemanah (Persia, Mesir, China), lalu menjadi anjing, rubah, atau serigala (Romawi; Canis Major, Asiria; Kalbu Samash, China; Tianlang). Dari ‘panas’ hingga menjadi seekor anjing, memperkuat betapa pentingnya bintang paling terang ini sebagai penuntun ketika berlayar pada malam hari. Terkadang letak moncongnya menjadi penentu di mana letak matahari terbit.

Kuri Anjing Maori
Kuri, Uri Anjing Tahiti
Korii- Anjing Anutan
Kurii- Anjing Tikopian
gu:r Anak anjing Ibrani
guryo: Anak Anjing Aramaik (Suriah, Kanaan)
Cruise Berlayar, meluncur, menjelajah Inggris
Cross, crux, cruz Silang (x), Salib (+) Inggris, Latin
Kur Dunia bawah, gunung, darat Sumeria
Kur Mahluk dunia bawah di potong2 Sumeria
Kur Gigit (moncong?) Sumeria
Ur Anjing, srigala Sumeria
Ur Manusia (urang, orang) Sumeria
Ur Asli, pangkal, asal-muasal Sumeria
Uri, Uli Anjing Samoa
‘uri* Anjing Rapanui
‘ilio* Anjing Hawaii
Koli* Anjing Fiji

Sundaland sendiri dalam mitologi Batak di sebut Banua, sebuah dataran luas terdiri dari tiga tingkatan; dataran tinggi (ginjang), pesisir (tonga), dan lembah-sungai (toru). Makin ke bawah makin subur wilayahnya tetapi juga yang paling sering di timpa bencana.

Kata

Arti

Tradisi

Henua Dunia Polinesia
Banua Dunia, negeri, wilayah Batak
Banua Wilayah atas, utara, langit Nias
Banua Rumah, pemukiman Toraja
Banua Rumah, Pemukiman Dayak
Wanua Rumah, Pemukiman Minahasa
Buana Alam, Dunia, Bumi Nusantara
Benua Dataran Kontinental Indonesia

Bukti-bukti pembersihan hutan berusia 8000 tahun di sekeliling danau Toba (Maloney dan McCormac), menurut Oppenheimer, merupakan aktifitas setelah banjir bah terakhir dari tiga seri yang terjadi (Oppenheimer) di susul aktifitas perdagangan maritim di timur Indonesia sekitar 7000 tahun lalu. Usulan perdagangan maritim terawal ini di keluarkan oleh Wilhem Solheim, arkeolog senior yang khusus menangani sejarah di Asia Tenggara. Ia juga mencetuskan istilah JKPMN atau Jaringan Komunikasi dan Perdagangan Maritim Nusantao untuk bangsa-bangsa maritim yang lalu-lalang di kawasan samudra Asia-Pasifik tersebut. Menurutnya keturunan JKPMN sekarang adalah suku-suku laut yang tersebar luas di Asia Tenggara (suku Baju, Bajo, Bajau, Bajo-Laut, Sama-Bajau).

Usulan Solheim berdasarkan penemuan-penemuan berupa obsidian-obsidian kepulauan Admiral (Pasifik) di utara Borneo, dan sebaliknya, sisa-sisa berupa tanaman-tanaman Asia Tenggara di duga untuk stimulan (tradisi-kunyah) di temukan di Melanesia (Jarak dari Borneo ke Passifik Barat kurang lebih 3500 km) (Oppenheimer). Terlebih lagi bukti-bukti agrikultur dengan sistem drainase di temukan di Papua. Bukti-bukti tertua menunjukkan angka 9000 tahun lalu di Kuk Swamp di Papua Nugini (kuk Swamp –wikipedia) berupa talas-umbi (taro), dan kultivasi pisang dan tebu hampir 7000 tahun yang lalu.

Di temukan juga bukti keberadaan taro di kepulauan Solomon yang di duga sejak 25.000 tahun lalu, menjadikan kultivasi talas-umbi sebagai bukti agrikultur tertua di dunia (Neolitihic revolution – wikipedia). Penduduk berbahasa Papua di duga sampai ke kepulauan Solomon sekitar 30.000 tahun yang lalu (solomon islands –wikipedia).

Tiga banjir yang di maksud Oppenheimer mungkin MWP atau Meltwater Pulse (kenaikan permukaan air laut akibat es, salju, gletser, yang meleleh menjadi masa air yang besar), antara lain MWP 1A, yang terjadi sekitar 14.000 tahun lalu, MWP 1B sekitar 11.500 tahun lalu, dan MWP 1C sekitar 8000 tahun lalu (Gornitz). Permukaan air laut yang 120 meter lebih rendah di banding sekarang, naik akibat rentetan banjir-banjir tersebut. Bandingkan dengan Laut Jawa, Selat Bali, Selat Karimata, yang merupakan laut-laut dangkal dengan kedalaman rata-rata 50 meter.

Beberapa mitologi juga mengindikasikan peristiwa-peristiwa itu seperti kisah Sidhi Mantra dan Manik Angkeran dalam mitologi Bali, kedua karakter terpisah karena naiknya permukaan laut yang sekarang menjadi Selat Bali, bisa di bandingkan dengan kisah Anpu dan Bata dalam mitologi Mesir (tertulis di papirus berusia 3000 an tahun, dewa yang di sebut-sebut adalah Ennead atau Sembilan Dewa yang merupakan aspek-aspek dewa penuntas Atum, mirip Nawa Dewata dalam ajaran Bali).

—————————————————————————————————

REFERENSI;

Stephen Oppenheimer: “Eden in the East”

“Austric in India” (2009) oleh: Paul Manansala dan Torsten Pedersen

“Sumerian Lexicon” oleh;  J.A Halloran

B.K Maloney dan F.G McCormac, ‘Palaeoenvironments of North Sumatra: A 30.000 Year Old Pollen Record From Pea Bullock’, dalam Indo-Pasifi Prehistory Association Bulletin, 1996 (The Chiang Mai Papers), jil.1, hal.73-81

“Sea Level Rise “ oleh: Dr. Vivien Gornitz

Tale of Two Brothers – wikipedia

The Tale of Two Brothers (reshafim.org.il/ad/egypt/texts/anpu_and_bata.htm)

Bata (god) – wikipedia

Nusantao Maritime Trading and Communication Network – Wikipedia

Sirius – Wikipedia

8 thoughts on “BAB III: ARTI BATAK

  1. Toni Samosir mengatakan:

    bisa ikut gabung ke Forum ini pak ???
    http://batak.nicetopics.com/

    pengen belajar batak lebih dalam …
    ^_^

  2. anasaia mengatakan:

    Dari kejadian nyata menjadi sebuah kisah seiring waktu bertambah menjadi legenda lalu akhirnya menjadi dongeng. Kebanyakan sumber-sumber dari banyak teori saat ini selalu menggambarkan sejarah yang ada diambil dari kondisi keadaan bumi yang sekarang, khususnya peta perjalanan manusia purba. Sementara sudah digambarkan bumi mengalami kenaikan air laut sebanyak 3 periode. Jika disusun menurut titik2 penemuan prasejarah dengan keadaan yang sekarang peredaran manusia dimulai dari daerah afrika, tapi saya yakin semua berasal dari bawah laut sekarang yang dulunya masih merupakan daratan, jadi pergerakannya dari bawah menuju ke atas permukaan yang lebih tinggi dan bahkan manusia yang sekarang bisa saja mengalami kenaikan air laut lagi karena kita masih mempunyai lapisan es yang jika cair bisa menutupi permukaan bumi sampai hanya tinggal beberapa permukaan yang tinggal menjadi pulau2 kecil yang jumlahnya tidak lebih dari sebelah jari tangan. Itu mungkin terjadi karena sudah pernah terjadi, yang pertama, kedua, ketiga atau yang ke empat tinggal menunggu waktu saja dan memang bukan dalam waktu yang singkat, dongeng akan menjadi nyata.

    Seperti kisah Adam dan hawa menurut saya mirip kisah Pulau samosir dimana adam tanpa sadar sudah melanggar perintah sama dengan ayahnya si samosir. Adam dan hawa memiliki keturunan yang bertanggung jawab atas baik buruknya keadaan di bumi. Hanya saja kisah Adam dan Hawa dituturkan dengan bahasa yang universal karena tingkat kemampuan otak manusia disaat kisah itu tercipta sudah sangat tinggi.

    • Hesperonesia mengatakan:

      ya, sudah banyak akademik dari berbagai konsentrasi ilmu mengulas tiga banjir dan rata-rata menyimpulkan Asia Tenggara sebagai awal peradaban manusia, jadi bukan hal yang baru lagi.

      Adam dan HAwa juga sesuai tradisi di manapun di dunia, YAhudi mengartikan kedua leluhur mereka sebagai ‘tanah dan air’, seperti Osiris dan Isis juga tidak jauh berbeda, Batak menggunakan unsur api-air, Eropa Utara (NOrdik) menggunakan pohon dan tanaman merambat (mirip Dayak), bahkan Nordik menggunakan tiga siklus, sama seperti Batak dan Indian Hopi (Arizona). Seperti yang telah saya ulas pada bab sebelumnya (https://hesperonesia.wordpress.com/2011/12/09/debata-idup-dinamika-hidup/ ).

      Lebih rinci lagi di gunakan angka tujuh dalam masing2 tradisi (baca: agama), tujuh bencana di simbolkan dengan tujuh cawan (Batak), Manu ke-7 (HIndu/ Vedik), Sumeria ke 7 (di cipta dengan tanah), ADam siklus ke -6 sementara Nuh ke-7 (Talmud), faktanya di NUsantara banyak sekali kisah-kisah menggunakan angka tujuh yang menggunakan simbol air (feminin, hawa, bulan).

      Jika anda anggap “kisah Adam dan Hawa dituturkan dengan bahasa yang universal karena tingkat kemampuan otak manusia disaat kisah itu tercipta sudah sangat tinggi” memang benar. ADam dan Hawa adalah penuturan setelah terciptanya aksara, dan aksara di dunia sekarang umumnya ber-akar dari abjad proto-canaanite yang di buat bangsa maritim kanaan/ fenisia yang sudah menjadi partner dagang bangsa maritim austronesia (indonesia, austronesia, micronesia, oseanik), sejak jaman dahulu.

      Yahudi menggunakan simbol Taurus (sekitar 6000 tahun lalu) sebagai awal
      kehidupan adam dan hawa, di era yang sama dengan revolusi agrikultur, pelogaman, literatur, perdagangan, dan kemaritiman Nusantao. Di era yang sama dengan adanya dua peradaban pada saat itu (Mesir-Mesopotamia), yang menghiasi hampir seluruh kitab awal mereka. Yahudi sendiri di gambarkan sebagai suku-suku gurun pasir yang bolak-balik keluar masuk di kedua peradaban tersebut.

      Peradaban tercipta karena adanya pasar, dan pasar biasanya berada di pesisir (hilir). Dari pasar kemudian menjadi pelabuhan, lalu menjadi kota, dan kemudian menjadi kota-negara. Setelah peradaban awal (Sumeria) menghilang, mungkin karena sudah berbaur, kemudian muncul peradaban-peradaban baru, seperti Mitanni, BAbilon, Levantine, Yunani, dan sebagainya. Sejarah Yahudi sendiri tentu tergantung dari leluhur mereka, bangsa Semit-kuno atau Babilon. Dan Babilon pada saat itu merupakan sumber ilmu karena warisan dari peradaban terdahulu (Sumeria) baik huruf paku, matematika, kimia, astronomi, dan sebagainya, yang bersumber dari Mul.Apin buku astronomi peninggalan sumeria.

      Kisah Toba-samosir juga di turunkan dengan astronomi (parhalaan), karena perbintangan selain berguna untuk masa tanam-panen dan navigasi kelautan, juga sebagai penyimpan sejarah. Setiap kisah bencana selalu di susul dengan penciptaan leluhur, dan biasanya terkait dengan kisah Toba dan TIga Dewa, atau empat raja di empat sungai Banua (simbol X) yang di urai dalam turi-turian seperti layaknya siklus. Ini juga terdapat di ebrbagai tradisi seperti Toraja menggunakan nama Tomanurun dengan Tiga Dewa (Pong), kisah ATlantis menggunakan Atlas dengan Tiga Dewa, Nordik menggunakan Ymir dengan Tiga dewa, dan sebagainya.

      Sementara Yahudi hanya menggunakan simbol empat sungai di Eden dan sepasang leluhur keluar dari sana karena bencana api. Sebagai pengingat dari mana mereka berasal, dalam berbagai ritual kuno tertulis di Mazmur, mereka menggunakan wewangian dari asia tenggara (gaharu, cendana, kayu manis, teja, dan sebagainya).

  3. omrisamosir mengatakan:

    Topik ini Selalu menarik Bung. Horas

  4. komeng mengatakan:

    apa arti kata toba di bahasa batak

yuk

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: