BAB III: ARTI BATAK

Kata Toba dan Bata (Batak) sama-sama menggunakan dua kata dasar yang sama hanya di balik saja yaitu Tao-Bah dan Bah-Tao. Kata ba/bah mengandung arti dualisme ‘bah-agia’ dan ‘bah-aya’. Yang membahagiakan adalah ba/bua/bue (‘buah-buahan’) dan yang membahayakan adalah bah (musibah, air-bah, bencana). Sementara kata ta/tao mengarah ke poros, pusat, danau. Baik Bata ataupun Toba bisa menjadi wilayah surgawi sekaligus pusat bencana.

Sementara untuk manusianya sendiri bisa berarti ‘manusia-surgawi’ sekaligus ‘manusia yang selamat dari bencana’ karena di dalam rumpun bahasa Hesperonesia kata yang berhubungan dengan to, ito, tu, tau, tao, thao, taw, tawu, umumnya memang berhubungan dengan manusia, seperti Toar (To’ar, To-Ra) Minahasa artinya ’manusia-matahari’, begitu pula kata Toraja atau Toraya, tidak jauh berbeda, kemudian Tu dalam bahasa Maori artinya; manusia atau umat manusia. Menurut tradisi Maori Tu adalah nama dewa perang dan umat manusia adalah keturunannya. Manusia oleh Hawaii di sebut Ku mengarah ke ‘aku’ dalam khasanah bahasa Indonesia. Jika kata Tora di balik tetap berhubungan dengan manusia-matahari seperti Ratu atau Latu gabungan dari kata Ra (matahari) dan Tu (manusia) yang kita ketahui sebagai gelar pemimpin pria atau wanita di berbagai tradisi Austronesia (ratu, latu, datu).

Istilah Hesperonesia saya salin dari penelitian yang di lakukan Bernd Nothofer dalam sebuah rekonstruksi bahasa-bahasa pra-sejarah kepada 30 bahasa dominan di Nusantara. Menurutnya Batak, Nias, Gayo, Simalur, Mentawai, dan Enggano, merupakan yang tersisa dari bahasa-bahasa budaya kuno di wilayah Sundaland-Barat. Ia lalu menghubungkannya dengan yang tersisa di Sundaland-Timur seperti Sulawesi Utara, Filipina Selatan, dan Borneo Utara (Embaloh, Kayan). Secara keseluruhan yang tersisa dari Sundaland ini ia sebut Hesperonesia Kuno atau Paleo-Hesperonesia (Oppenheimer). Ahli genetik, Stephen Oppenheimer, kemudian melebarkan rumpun Hesperonesia Kuno ini hingga ke Borneo timur, timur laut, termasuk para “gipsi laut” yang tersebar luas di Asia Tenggara (suku Baju, Bajo, Bajau, Bajo-Laut, Sama-Bajau).

Arti kata Batak yang paling umum di gunakan adalah; pengembara, petualang, warna bata (kemerahan), dan batang (jalur, arus, badan, tubuh, sungai, pohon, buah, biji). Jadi Batak merupakan pengembara atau petualang yang mencari tanah subur (merah), alur sungai, dan pepohonan. Pengembaraan ini berdasarkan ‘jalur-matahari’ atau ‘pengembaraan-matahari’ atau bata-ra atau raja-bata (raya-bata). Dengan tambahan kata Guru di belakang Batara maka menjadi ‘pengembaraan matahari sebagai guru (penuntun)’.

Matahari

Bahasa

Ra

Māori

Araw

Tagalog

Ari/Are

Toba, Minahasa

Ra’a

Rapa Nui (pulau Paskah)

La

Hawaii

Alo

Toraja

rau-*

Sera, Sissano

rato-*

Are’are

  ra, ra’a-*

Oceanik

lara-*

Aru

lea-*

Ambon

Kata ‘guru’ juga sebenarnya berasal ari kata gur mengandung arti panas sekali (gur) atau mendidih (gura), sebutan ini sepertinya untuk satu bintang yang paling terang pada malam hari lebih kita kenal dengan nama Sirius (Yunani: “teramat panas”, “menyala-nyala”). Terlebih lagi Matahari, Bulan, dan bintang Sirius merupakan tiga benda langit utama yang umum di berbagai tradisi dunia.

Sirius sangat penting bagi pelaut-pelaut Polinesia sebagai penuntun ketika mereka menjelajahi samudra Pasifik yang luas itu. Sirius adalah pengganti matahari jika berlayar pada malam hari, di kenal sebagai ‘brenna (obor) Loki’ oleh Skandinavia, A’a (Hawaii), Ta-kuru-a (Maori), Tau-ua (kepulauan Marquesas), dan Rehua (Tahiti dan Salandia Baru). Semuanya mengandung arti sama (panas, menyala, cemerlang, dsb). Tiga bintang ini juga sesuai dengan ‘Tiga-Abadi’ atau siklus tiga karakter pada awal kehidupan (Bapak, Ibu, Anak) seperti Toba (matahari), Dekke (bulan), dan Samosir (Sirius), juga bisa di bandingkan dengan Toar-Suami/ Lumimuut/ Toar-Anak, atau Horus-Tua/ Hathor/ Horus-Anak, atau Eros I/Virgo/Eros II, dan sebagainya.

Sirius (Mesir; Sihor), dalam prosesnya, mengalami perubahan-perubahan dari bintang yang yang paling ‘panas’ menjadi konstelasi berbentuk runcing (Mesir; Sopdet, Yunani; Sothis), panah, busur-panah, pemanah (Persia, Mesir, China), lalu menjadi anjing, rubah, atau serigala (Romawi; Canis Major, Asiria; Kalbu Samash, China; Tianlang). Dari ‘panas’ hingga menjadi seekor anjing, memperkuat betapa pentingnya bintang paling terang ini sebagai penuntun ketika berlayar pada malam hari. Terkadang letak moncongnya menjadi penentu di mana letak matahari terbit.

Kuri Anjing Maori
Kuri, Uri Anjing Tahiti
Korii- Anjing Anutan
Kurii- Anjing Tikopian
gu:r Anak anjing Ibrani
guryo: Anak Anjing Aramaik (Suriah, Kanaan)
Cruise Berlayar, meluncur, menjelajah Inggris
Cross, crux, cruz Silang (x), Salib (+) Inggris, Latin
Kur Dunia bawah, gunung, darat Sumeria
Kur Mahluk dunia bawah di potong2 Sumeria
Kur Gigit (moncong?) Sumeria
Ur Anjing, srigala Sumeria
Ur Manusia (urang, orang) Sumeria
Ur Asli, pangkal, asal-muasal Sumeria
Uri, Uli Anjing Samoa
‘uri* Anjing Rapanui
‘ilio* Anjing Hawaii
Koli* Anjing Fiji

Sundaland sendiri dalam mitologi Batak di sebut Banua, sebuah dataran luas terdiri dari tiga tingkatan; dataran tinggi (ginjang), pesisir (tonga), dan lembah-sungai (toru). Makin ke bawah makin subur wilayahnya tetapi juga yang paling sering di timpa bencana.

Kata

Arti

Tradisi

Henua Dunia Polinesia
Banua Dunia, negeri, wilayah Batak
Banua Wilayah atas, utara, langit Nias
Banua Rumah, pemukiman Toraja
Banua Rumah, Pemukiman Dayak
Wanua Rumah, Pemukiman Minahasa
Buana Alam, Dunia, Bumi Nusantara
Benua Dataran Kontinental Indonesia

Bukti-bukti pembersihan hutan berusia 8000 tahun di sekeliling danau Toba (Maloney dan McCormac), menurut Oppenheimer, merupakan aktifitas setelah banjir bah terakhir dari tiga seri yang terjadi (Oppenheimer) di susul aktifitas perdagangan maritim di timur Indonesia sekitar 7000 tahun lalu. Usulan perdagangan maritim terawal ini di keluarkan oleh Wilhem Solheim, arkeolog senior yang khusus menangani sejarah di Asia Tenggara. Ia juga mencetuskan istilah JKPMN atau Jaringan Komunikasi dan Perdagangan Maritim Nusantao untuk bangsa-bangsa maritim yang lalu-lalang di kawasan samudra Asia-Pasifik tersebut. Menurutnya keturunan JKPMN sekarang adalah suku-suku laut yang tersebar luas di Asia Tenggara (suku Baju, Bajo, Bajau, Bajo-Laut, Sama-Bajau).

Usulan Solheim berdasarkan penemuan-penemuan berupa obsidian-obsidian kepulauan Admiral (Pasifik) di utara Borneo, dan sebaliknya, sisa-sisa berupa tanaman-tanaman Asia Tenggara di duga untuk stimulan (tradisi-kunyah) di temukan di Melanesia (Jarak dari Borneo ke Passifik Barat kurang lebih 3500 km) (Oppenheimer). Terlebih lagi bukti-bukti agrikultur dengan sistem drainase di temukan di Papua. Bukti-bukti tertua menunjukkan angka 9000 tahun lalu di Kuk Swamp di Papua Nugini (kuk Swamp –wikipedia) berupa talas-umbi (taro), dan kultivasi pisang dan tebu hampir 7000 tahun yang lalu.

Di temukan juga bukti keberadaan taro di kepulauan Solomon yang di duga sejak 25.000 tahun lalu, menjadikan kultivasi talas-umbi sebagai bukti agrikultur tertua di dunia (Neolitihic revolution – wikipedia). Penduduk berbahasa Papua di duga sampai ke kepulauan Solomon sekitar 30.000 tahun yang lalu (solomon islands –wikipedia).

Tiga banjir yang di maksud Oppenheimer mungkin MWP atau Meltwater Pulse (kenaikan permukaan air laut akibat es, salju, gletser, yang meleleh menjadi masa air yang besar), antara lain MWP 1A, yang terjadi sekitar 14.000 tahun lalu, MWP 1B sekitar 11.500 tahun lalu, dan MWP 1C sekitar 8000 tahun lalu (Gornitz). Permukaan air laut yang 120 meter lebih rendah di banding sekarang, naik akibat rentetan banjir-banjir tersebut. Bandingkan dengan Laut Jawa, Selat Bali, Selat Karimata, yang merupakan laut-laut dangkal dengan kedalaman rata-rata 50 meter.

Beberapa mitologi juga mengindikasikan peristiwa-peristiwa itu seperti kisah Sidhi Mantra dan Manik Angkeran dalam mitologi Bali, kedua karakter terpisah karena naiknya permukaan laut yang sekarang menjadi Selat Bali, bisa di bandingkan dengan kisah Anpu dan Bata dalam mitologi Mesir (tertulis di papirus berusia 3000 an tahun, dewa yang di sebut-sebut adalah Ennead atau Sembilan Dewa yang merupakan aspek-aspek dewa penuntas Atum, mirip Nawa Dewata dalam ajaran Bali).

—————————————————————————————————

REFERENSI;

Stephen Oppenheimer: “Eden in the East”

“Austric in India” (2009) oleh: Paul Manansala dan Torsten Pedersen

“Sumerian Lexicon” oleh;  J.A Halloran

B.K Maloney dan F.G McCormac, ‘Palaeoenvironments of North Sumatra: A 30.000 Year Old Pollen Record From Pea Bullock’, dalam Indo-Pasifi Prehistory Association Bulletin, 1996 (The Chiang Mai Papers), jil.1, hal.73-81

“Sea Level Rise “ oleh: Dr. Vivien Gornitz

Tale of Two Brothers – wikipedia

The Tale of Two Brothers (reshafim.org.il/ad/egypt/texts/anpu_and_bata.htm)

Bata (god) – wikipedia

Nusantao Maritime Trading and Communication Network – Wikipedia

Sirius – Wikipedia

BAB II: LEGENDA TOBA-SAMOSIR

Plato menulis bahwa kehidupan manusia di awali dari dua komunitas yang tidak saling bercampur, masing-masing dengan tradisinya sendiri-sendiri, tidak ada perselisihan, dan hidup dengan damai. Sementara mitologi Batak mengawali kehidupan para leluhur justru ketika dua komunitas yang berbeda tersebut bertemu di sungai, dengan menggunakan simbol ikan dan sepasang manusia. Simbol-simbol ini juga umum di dalam mitologi Oceania seperti di Borneo, Filipina, Maluku, Melanesia, Polinesia, Micronesia, dan Australia (Dixon).

Ceritanya di awali dari Toba yang tinggal di wilayah kering dan gersang, pergi ke sungai untuk memancing ikan. Beberapa lama kemudian tiba-tiba kail (atau jala) Toba menarik dirinya, dan dengan sigap, ia langsung berusaha menahan. Tetapi kail itu terasa berat hingga adu tarik-ulur pun terjadi. Akhirnya Toba berhasil memancing keluar ikan itu dan yang dilihatnya adalah Ihan atau Dekke (ikan besar). Ikan itu langsung di masukkan ke dalam wadah lalu dibawanya pulang. Toba kemudian pergi mencari dahan dan kayu untuk memasak. Setelah kembali, ajaibnya, ada makanan yang siap untuk di santap di dalam rumahnya. Ia pun melahap makanan itu hingga habis. Makanan itu tersedia lagi di hari berikutnya, dan besoknya lagi, hingga suatu hari akhirnya Toba mengetahui juga bahwa yang menyediakan makanan adalah seorang gadis yang ternyata perwujudan dari ikan yang dulu pernah ia tangkap dan sudah ia taruh ke dalam wadah. Keduanya lalu menikah dan keturunan-keturunan mereka merupakan leluhur manusia (rincian yang mirip juga terdapat di legenda Borneo dan Filipina [Dixon].

Simbol perkawinan Toba-Dekke melahirkan komunitas-komunitas baru yang di gambarkan sebagai kurir, pembawa berita, mediator, atau orang-tengah. Meski begitu, komunitas baru ini bukanlah komunitas yang bijak, mungkin karena itu pula di simbolkan sebagai ‘anak’ (tidak dewasa dalam pemikiran), dan tidak mau menuruti tradisi yang di turunkan orang-tuanya. Populasi mereka terlalu banyak dan menghabiskan segala sesuatunya (di dalam legenda kadang si anak di sebut ‘tidak pernah kenyang’ atau ‘si rakus’). Akhirnya terjadi perselisihan hingga peperangan antara generasi lama dengan generasi baru, antara si anak dan ayahnya, sehingga timbul bencana air bah yang memusnahkan segalanya, dan wujud sang ibu kembali seperti  semula, seekor ikan.

  Image

Genealogi Batak

Apa yang terjadi jika ikan tersebut tersangkut pancing kembali? Tradisi Batak menyuguhkan cerita yang serupa, bedanya, anak yang di lahirkan mempunyai tiga variasi atau tiga kelahiran;  seorang putri, dua orang putri, dan seorang putra (Samosir). Mirip legenda Indian Hopi yang mempunyai satu kisah kehidupan manusia yangg berulang hingga tiga kali. Tiga kelahiran tersebut tidak harus berurut, bebas, karena meski mewakili tiga kehidupan yang berbeda, tetapi mempunyai alur cerita yang sama yaitu sama-sama menggunakan simbol ‘ikan dalam wadah’ atau Ihan (Pisces) dan Hudon (Aquarius), dan sama-sama berujung dengan perselisihan dan bencana.

Kisah Toba yang paling umum di gunakan adalah Samosir yang juga mempunyai siklusnya tersendiri (Samosir I dan Samosir II). Kelahiran Samosir berada di kehidupan baru di tandai dengan perubahan profesi Toba yang awalnya sebagai pemancing ikan, sekarang menjadi ahli ladang. Sementara Samosir dari kecil telah di didik menjadi kurir dan pembawa berita. Tugasnya mengantar makanan yang telah di siapkan oleh ibunya kepada ayahnya dengan tepat waktu. Pada suatu hari Samosir sebenarnya melakukan rutinitas seperti biasanya, hanya saja ia terlalu asyik bermain hingga kelaparan lalu melahap makanan ayahnya (variasi lain menyebut Samosir jatuh atau terpeleset). Meski begitu, ia tetap mendatangi ayahnya.

Mungkin karena emosi bercampur lapar, murka sang ayah sudah tak terbendung lagi ketika melihat isi bekal makanannya hanya berupa sisa-sisa. Karena hilang kesabaran, Toba lupa dahulu ia pernah berjanji kepada istrinya bahwa ia tidak akan pernah menyebut putra mereka sebagai “anak-ikan” atau “anak-dekke”. Janji itu di langgarnya, dan Samosir sambil menangis langsung pulang ke rumah dan mengadu apa yang telah di ucapkan Toba kepada ibunya. Maka meneteslah air mata sang ibu, dan bertepatan dengan itu petir menyambar-nyambar dan hujan turun dengan derasnya. Samosir ia perintah lari ke puncak yang paling tinggi lalu menyaksikan bagaimana hujan turun tiada henti menenggelamkan segalanya. Ibu Samosir sendiri kembali lagi wujudnya seperti semula, menjadi seekor ikan.

Dalam kisah Samosir II sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Di sini Toba, setelah berhasil menangkap ikan, pulang ke rumah dan langsung pergi ke dapur mengambil pisau untuk memotong ikan. Tiba-tiba saja ikan tersebut menjelma menjadi seorang gadis dan sisik-sisik ikan terbuat dari emas bertebaran ke lantai (ada versi yang menyebut si gadis sedang memandang cermin sambil menyisir rambut panjangnya kemudian meminta Toba untuk menyalakan lampu-minyak). Gadis itu lalu menyuruh Toba untuk menjual emas itu. Setelah emas itu di jual lalu Toba menikahi gadis tersebut. Setelah Samosir lahir, Toba berubah profesi menjadi seorang petani, kemudian Samosir yang pergi mengantar makanan bertemu teman sebaya lalu keduanya di gambarkan terlalu asik bermain bola hingga Samosir merasa kelaparan, lalu menyantap makanan ayahnya, di marahi ayahnya, dan seterusnya.

Perhatikan, selain adanya penyisipan unsur-unsur logam, ada banyak sekali komunitas lain di kisah Samosir II , artinya Toba dan istrinya, sebagai simbol api-air telah ‘berinteraksi’ berkali-kali, dan melahirkan samosir-samosir baru, komunitas-komunitas baru, dengan inovasi-inovasi baru. Ada petani, pedagang, penempa, pengrajin, penambang, permainan bola sepak (mungkin takraw), kesemuanya berbaur menjadi satu yang tentunya menggiring ke bencana yang sama, status yang sama (anak-ikan), dan hikmah yang sama.

Hikmah dari kisah Toba-Samosir, termasuk siklus-siklusnya, adalah Dalihan na Tolu atau Tolu Sahundulan (Toraja: “Tiga Batu Tungku”, Mamasa; “Lalikan”, Buijs) yang artinya tiga dudukan batu tungku yang sejajar. Jika salah satu batu lebih menonjol, lebih rendah, lebih rapuh, maka tidak bisa di gunakan untuk memasak (tumpah). Tolu merupakan filosofi hidup leluhur tentang kebersamaan, sebuah sistem demokrasi terawal seperti layaknya ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ atau ‘torang samua basudara’ atau ‘bhineka tunggal ika’. Ironisnya tiap-tiap legenda Batak, yang mewakili jaman yang berbeda-beda tersebut, selalu di akhiri dengan filosofi yang sama, bahkan masih terus di kumandangkan hingga sekarang ini.

Dalihan na Tolu tidak saja berlaku antar sesama manusia tetapi juga manusia dengan alam sekitarnya. Jika anda jeli, iklim sudah memegang peranan besar di dalam kisah Toba. Sedari awal sudah di ceritakan keadaan bumi yang kering dan gersang, lalu ketika perseteruan antara dua generasi tersebut di mulai, tiba-tiba terjadi perubahan iklim yang sebenarnya menggembirakan ‘suara petir dan hujan membasahi bumi’, musim hujan yang di tunggu-tunggu telah datang. Akan tetapi lamanya musim kering sepertinya sama dengan lamanya musim hujan. Hujan itu tidak kunjung berhenti hingga bencana air bah pun melanda bumi. Tidak banyak kisah-kisah bencana air bah yang juga menggambarkan perubahan iklim, beberapa di antaranya terdapat dalam rumpun Indo-Eropa seperti kisah air bah Manu (musim kering berkepanjangan) dan kiamat Ragnarök (Fimbulwinter; “musim dingin berkepanjangan”). Dalam titik tertentu juga mengarah ke kalender panjang Maya (kalender 13 Baktun) yang secara rinci menyebut adanya perubahan-perubahan iklim ekstrim menjelang pergantian kalender yang baru.

Dayak yang mempunyai kisah yang mirip, berpantang memakan ikan tertentu terkait dengan kisah leluhur tersebut (Oppenheimer). Sementara ikan oleh bangsa Maya dikurbankan sebagai pengingat akan “Kehidupan Pertama” berdasarkan murral berusia 100 SM (Roach). Ikan adalah simbol kehidupan dunia bawah (watery underworld) Maya.

———————————————————————————————————————————————–

REFERSENSI:

Roland.B. Dixon: “Oceanic Mythology” (1906)

Kees Buijs: “Kuasa Berkat Dari Belantara dan Langit” Struktur dan Trasformasi Agama Orang Toraja di Mamasa Sulawesi Cetakan I 2009 Penerjemah: Ronald Arulangi-KITLV Jakarta

Stephen Oppenheimer: “Eden in the East” (1998)

John Roach:”Oldest Known Maya Mural” (news.nationalgeographic.com/news/2005/12/1213_051213_maya_mural.html)

(news.nationalgeographic.com/news/2005/12/1213_051213_maya_mural_2.html)

hopi mythology – wikipedia

Bertanda , , , ,

DEBATA IDUP: DINAMIKA HIDUP

(lanjutan dari “Toba: Titik-Temu”)

padoha

Santos benar, kisah-kisah tragedi berulang-ulang di Nusantara (yang terkadang di perhalus menjadi “penciptaan kembali”) sekaligus menggunakan simbol-simbol Ibu-Putra memang eksis di berbagai mitologi di Indonesia. Misalnya di dalam tradisi Batak, Minahasa, dan Sunda. Saya memilih tiga ini karena, selain mempunyai ciri khas Ibu-Putra yang di maksud, ada beberapa intisari dari legenda-legenda ketiganya yang bisa di hubungkan satu dengan yang lain seperti; perbintangan (Batak), bumi yang bundar (Sunda, Minahasa), bumi yang berputar pada porosnya (Minahasa). Dengan begini kita bisa tahu bahwa pengetahuan-pengetahuan yang di wariskan oleh leluhur sebenarnya tidak hilang seluruhnya, bahkan bisa di bilang, saling melengkapi, dan pada akhirnya terhubung dengan tradisi-tradisi lainnya seperti Nias, Sumba, Bali, Toraja, dan masih banyak lagi lainnya, yang mengindikasikan wilayah Indonesia sebagai pasak, poros, pusat, pancang atau tiang bumi.

Menurut Bernd Nothofer, dalam sebuah rekonstruksi bahasa-bahasa pra-sejarah kepada 30 bahasa dominan di Nusantara, Batak, bersama Nias, Gayo, Simalur, Mentawai, dan Enggano, merupakan sisa dari bahasa-bahasa budaya kuno Sundaland-Barat. Ia lalu menghubungkannya dengan yang tersisa di Sundaland-Timur seperti Sulawesi Utara, Filipina Selatan, dan Borneo Utara (Embaloh, Kayan). Secara keseluruhan yang tersisa dari Sundaland ini ia sebut; Paleo-Hesperonesia.

Kemudian Oppenheimer melebarkan rumpun Paleo-Hesperonesia (Hesperonesia Kuno) ini hingga ke Borneo timur, timur laut, termasuk para “gipsi laut” yang tersebar luas di Asia Tenggara (suku Baju, Bajo, Bajau, Sama-Bajau). Para gipsi-laut inilah, menurut arkeolog senior Wilhelm Solheim, sebagai keturunan-keturunan dari JKPMN atau Jaringan Komunikasi dan Perdagangan Maritim Nusantao.

Sebagai salah satu budaya megalitikum terakhir yang masih bertahan di dunia, Batak mempunyai banyak sekali mitos dan legenda yang tergolong kompleks ibarat pohon yang menjulang tinggi ke langit dan mempunyai akar dan dahan yang cabang-cabangnya tidak terhitung banyaknya. Tetapi semuanya saling terkait seperti kalpataru atau jaringan sehingga, meski tidak terhitung lagi variasi-variasinya, semuanya mempunyai dasar yang sama yang sudah terbentuk jauh sebelum aksara di temukan dan di perlakukan, ketika para leluhur kita masih menggunakan ukir-ukiran, tari-tarian, permainan, tatoo, lagu, penuturan, musik, sebagai media penyimpan sejarah masa banjir-banjir purba.

Salah satu media penyimpan yang di anggap terkuno adalah penggunaan benda-benda langit dengan angka (numeral) sebagai dasarnya. Di sebut Tikki atau Tingki (divisi waktu, jaman, masa), yang kemudian melahirkan Parhalaan dan Permesa atau astronomi dan astrologi yang menjadi alat bantu navigasi untuk berlayar, penentu musim tanam dan panen, kemudian berkembang lagi menjadi kalender. Karakter-karakter yang di gunakan baik di dalam mitologi maupun perbintangan sepertinya berdasarkan kehidupan sehari-hari seperti kerbau, kuda, ayam, telur, cacing, sungai, gunung, pohon, periuk, kelamin, masa kehamilan, masa kelahiran, dan banyak lagi lainnya.

Waktu identik dengan siklus identik dengan simbol O atau cincin, gelang, bulan, bumi, cakrawala, dan waktu juga di simbolkan dengan sesuatu yang meliuk seperti sungai atau lr di sebut serpent. Serpent merupakan salah satu simbol mitologi tertua yang tersebar luas di seluruh dunia. Di ambil dari kata latin serpens yang artinya; “merambat”, “merayap”, “menjalar”, “merangkak”, “timbul pelan-pelan”, “maju perlahan”, sementara serpentine adalah sifatnya yang meliuk-liuk, berkeluk-keluk, berliku, melengkung, gemulai, melambai, menari, berombak, melilit, juga bersisik, seram, geli, besar, dan sejenisnya.

Ular, ikan, sungai, api, ombak, nyiur melambai, belalai, tali-temali, adalah beberapa yang berhubungan dengan serpent. Ular di anggap sebagai simbol waktu karena keistimewaannya yang suka berganti kulit secara berkala, di artikan sebagai, regenerasi, pembaruan, pergantian jaman, tahun baru, dan kelahiran kembali. Kemudian ular juga di gambarkan sedang mengejar atau mengigit ekornya sendiri sebagai perlambang keabadian (Eternal Return) dan terdapat dalam mitologi seperti Nordik, Cina, Mesir, Yunani (Ouroboros), Aztek (Quetzalquatl), dan banyak lagi lainnya.

kalahari

Kalahari

Seberapa kunonya simbol ini tidak di ketahui, meski begitu ada yang menarik dari penemuan di gurun Kalahari yang terletak di wilayah selatan Afrika. Di sini di temukan sebuah situs yang mengindikasikan sebuah ritual keagamaan yang usianya kira-kira 70.000 tahun, berupa batu besar berbentuk ular piton, dengan ruang kecil yang tersembunyi, dan di kelilingi oleh beberapa mata tombak yang telah rusak dan 13.000 artifak lainnya. Bahkan sejarah panjang manusia yang terangkum dalam salah satu kisah epik terpanjang di dunia, Mahabharata, yang di tuturkan oleh Resi Wesampayana juga di awali dari permohonan Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular.

Jadi kalau kita menemukan kata-kata dasar yang mirip di belahan bumi lain menandakan betapa kunonya simbol tersebut. Mungkin seumur dengan bahasa, alat komunikasi yang sejarahnya seumur dengan manusia (sebagai pengguna utama). Bahasa-bahasa pada jaman dahulu mungkin tidak seperti sekarang, lebih sederhana tetapi mengandung banyak arti. Penelusuran bahasa-bahasa kuno yang mengandung arti serpent dan masih di gunakan antara lain;

  • Nag (India) mengandung arti; naga, ular, gajah.
  • Atl (Aztek) mengandung arti; air, dewa, samudra, naga, ular.
  • Ai (Sawu, Nusa Tenggara Timur) mengandung arti; air dan api

Suku Sawu yang bermukim di kepulauan paling selatan Indonesia hanya menggunakan satu suku kata saja, ’ai’ (bahkan satu vokal) tetapi sudah mewakili dua unsur utama penciptaan dan kehancuran. Yang dekat dengan ‘ai’ adalah ‘ahi’ dalam tradisi Vedik (pre-Hindu) di artikan sebagai ular atau naga. Selain itu ada Aides (Ἅιδης), Ades (Άδης), atau lebih populer dengan nama Hades, kekuatan absolut (api-air) Yunani kuno yang terletak di dunia bawah dan tersembunyi, pembawa simbol dualisme neraka dan surga (Tartarus dan Hesperides). Kemudian ada naga roda-waktu sebagai penanda esok-kemarin seperti Ai-dophedo (Ashanti, Afrika Barat), atau naga pelangi Ayi-da Wedo (Vodou-Benin, Haiti). Dan naga pelangi lainnya yang banyak menghiasai legenda-legenda di berbagai suku Aborigin-Australia sebagai simbol pencipta sekaligus pemberi wabah atau penyakit.

Kemudian suku-suku Dayak di tenggara Kalimantan mempunyai kisah naga bermahkota yang berperan sebagai fondasi dalam pembentukan bumi, tetapi juga memuat kisah batu api yang jatuh menimpa bumi, sementara Padoha (mahluk bertanduk) adalah nama naga dalam tradisi Batak dan Bali yang mirip dengan serpent-serpent tersebut di atas.

debata

Debata Idup (Tugu-Tao)

Kembali ke lingkar-abadi O tanpa gender, yang aktif ke atas seperti gunung (maskulin) dan menjorok ke bawah seperti kawah (feminin), mungkin di lihat dari samping terlihat seperti gr atau meliuk-liuk seperti lr mengikuti sifat api yang menjalar ke atas (maskulin) dan air yang mengalir ke bawah (feminin). Tradisi Batak menamakannya Debata Idup (Dinamika Hidup). Gambar patung di atas ini adalah seni ukir pahat kayu yang menggambarkan Dinamika Hidup tersebut. Maskulin, di sebelah kiri, namanya Tugu karena ia menggunakan sanggul menjulang seperti tugu sementara yang feminin namanya Tao dengan ciri ada cawan di atas kepalanya, lalu perpaduan keduanya yang menghasilkan sesuatu yang meliuk-liuk itu, namanya Padoha sebagai simbol waktu, daya, dan cuaca (suara, udara, suhu, iklim, embun, hujan, petir, dan sebagainya) sekaligus sebagai fondasi bumi.

Padoha melahirkan karya-karya seni berupa struktur bumi, seperti; gunung-gunung, lembah-lembah, serta yang berliku-liku seperti sungai-sungai, ombak, dan sebagainya. Secara tradisi, aktifitas Padoha ini di simbolkan dengan kain tenun ulos. Tiga warna utama ulos (hitam, merah, putih, sama dengan tiga warna batu fondasi Atlantis) mempresentasikan dataran tinggi, dataran rendah, dan diantaranya (pesisir, samudra, hutan). Selain itu Padoha juga di gambarkan melingkar dan terikat pada porosnya, dan bisa juga di bandingkan dengan raksasa atau naga yang di potong-potong di berbagai mitologi dunia (sebagai simbol kesuburan). Singkatnya saja, Dinamika Hidup saya simpulkan seperti di bawah ini;

  • Tugu (daya-pancar); maskulin, api, matahari, gunung, agrikultur, kesuburan.
  • Tao (daya-magnit); feminin, air, bumi, bulan, danau-kawah, kapas-benang, kehidupan.

Sementara Padoha memang di kondisikan tidak terlihat, tetapi kita bisa mengetahuinya dengan menghubungkan aspek-aspek Tugu dan Tao misalnya maskulin-feminin, api-air, bumi- matahari, kesuburan-kehidupan, dan seterusnya. Berbagai nama-nama di dalam mitologi Batak seperti putri bulan, dewi tenun, dewa matahari, menunjukkan aspek-apek dari Tugu-Tao, mungkin agar mudah di telusuri langsung ke Dinamika Hidup. Bisa juga di bandingkan dengan Toar-Lumimuut dalam tradisi Minahasa yang tidak saja berperan sebagai leluhur tetapi juga berbagai aspek kehidupan seperti bumi, matahari, samudra, angin, dan sebagainya.

Tidak ada yang menonjol dan tidak ada yang di tonjolkan di dalam Dinamika Hidup, semuanya saling terkait dan menyatu baik api (maskulin), air (feminin), dan api-air (Padoha). Ini juga bisa di lihat dari patung Debata Idup di atas di mana keduanya sama-sama menggunakan ikat kepala seperti cincin atau gelang O yang menjadi pengingat bahwa Tugu-Tao adalah satu, yaitu lingkar-abadi, tanpa gender, tanpa jenis kelamin. Simbol-simbol ini juga ditemukan di wilayah lain di Indonesia baik itu cincin, gelang, maupun ikat kepala.

Tugu-Tao mewakili matahari-bulan bisa di simbolkan dengan dua lingkaran OO atau 8 atau juga bisa seperti oxdi mana yang satunya seperti lingkaran di belah dua, kemudian bagian atas di taruh ke bawah dan yang bawah dinaikan ke atas, mirip kepala yang di atasnya ada tanduk, batok (tempurung) kelapa, cawan, perahu, bulan, atau tempat duduk. Karena OX ini adalah satu maka jika di gabung menjadi . Oleh tradisi Batak di taruh di atas langit menjadi konstelasi Sia (Orion) atau Sialasungsang yang bentuknya memang seperti X, K, atau . Sia artinya sembilan jadi jika di terjemahkan OX adalah 09. Karena ini merupakan simbol ombak atau dinamika hidup maka menjadi 090909090 dan seterusnya.

Dewa atau leluhur di beberapa mitologi dunia juga menggunakan unsur-unsur Dinamika Hidup baik tunggal maupun sepasang. Pangu (China) adalah pencipta yang di gambarkan seperti Atlas sekaligus mahluk bertanduk yang berada di antara Yin dan Yang. Bagian-bagian tubuhnya adalah gunung-gunung, sungai-sungai, udara, bintang-bintang, dan lain sebagainya. Ymir adalah raksasa yang di potong-potong oleh tri-tunggal Nordik (Odin, Vili, Ve) dan bagian-bagian tubuhnya menjadi laut, awan, debu, sungai, dan sebagainya. Yahudi mempunyai mahluk air Leviathan yang di potong-potong dengan pedang api Tuhan, dan Adam dan Hawa (atau Kawwah) yang masing-masing artinya tanah dan kehidupan. Osiris dan Isis mewakili kesuburan dan kehidupan, sementara Nordik mempunyai Ask dan Embla (pepohonan dan tumbuhan merambat) sebagai leluhur manusia sebelum kiamat Ragnarok, lalu Lif dan Lifthrasir (kehidupan dan kesuburan) sebagai sepasang manusia pertama sesudah Ragnarok, dan masih banyak lagi leluhur atau serpent lainnya di berbagai tradisi yang berhubungan dengan kedua unsur utama (api-air atau tanah-air).

—————————————————————————————————–

REFERENSI:

Ignatius Donelly:”Antediluvian World” (1883)

Roland.B.Dixon: “Oceanic Mythology” (1916)

Stephen Oppenheimer “Eden in the East” (1998)

Rainbows in mythology – Wikipedia

Timeline of religion – Wikipedia

“World’s oldest ritual discovered”- eurekalert.org

Mahabharata – Wikipedia bahasa Indonesia

———————————————————————————————————

Bertanda , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

TOBA: TITIK-TEMU

Menurut “Bapak Atlantologi” Ignatius Donelly; “Atlantis adalah wilayah di mana manusia mengalami perubahan dari primitif menjadi beradab.” Pertanyaan yang muncul adalah perubahan yang bagaimanakah yang di sebut beradab? Secara anatomi atau tahap berpikir? Atau hibrida (kawin-silang)? Penemuan-penemuan arkeologi membuktikan keduanya berada di dua lokasi yang berbeda. Secara anatomi, manusia modern tertua berumur 150.000-160.000 tahun di temukan di Jebel Irhoud, Maroko, Afrika Utara. Sementara, di era yang sama, di temukan peralatan atau senjata yang di duga terbuat dari tulang kerbau dan sapi purba di Ngandong, Jawa, melengkapi data kecerdasan sekaligus evolusi budaya manusia purba saat itu.

Homo Soloensis merupakan salah satu bagian dari sekian banyak hominid di bawah keluarga besar Homo Erectus (Manusia Tegak) yang hidup sejak 2 juta tahun yang lalu. Erectus merupakan yang pertama kali keluar dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia (kecuali Sahulland). Pengendalian api, teknologi perkakas, pemukiman sederhana dari kayu, seni pahat (Venus of Tan-tan), menunjukkan tingkat kecerdasan hominid ini. Homo Erectus di duga menghilang (tidak di ketahui penyebabnya) sekitar 400.000 tahun lalu. Tetapi dugaan ini berubah setelah penemuan beberapa situs di sekitar Bengawan Solo, menjadikan Homo Soloensis sebagai keluarga Homo Erectus terakhir yang hidup bahkan hingga 50.000 tahun lalu, berdampingan dengan Homo Sapiens yang saat itu sudah mencapai danau purba Mungo di selatan Australia.

Dan sekarang Indonesia telah mempunyai ratusan suku, bangsa, suku-bangsa, budaya, tradisi, dan bahasa yang berbeda-beda. Menariknya sebagian besar mempunyai persamaan-persamaan tradisi seperti penggunaan kerbau atau sapi. Misalnya rumah-rumah adat yang terinspirasi dari tanduk, lalu hari-hari raya dan upacara-upacara kematian di mana kerbau atau sapi memang menjadi simbol utama atau di kurbankan. Tidak jauh berbeda dengan upacara adat penduduk Atlantis yang juga mengurbankan sapi atau kerbau, mereka mencampur darahnya dengan minuman sebagai upacara suci menuruti hukum adat yang turun temurun tertulis di tugu-tugu suci, dan ini di tulis oleh Plato sekitar 2360 tahun yang lalu. Ia juga menulis bahwa di awal kehidupan para dewa telah membagi-bagikan seluruh bumi untuk mereka sesuai dengan jatahnya masing-masing sehingga tidak ada perselisihan karena tidak saling bercampur satu dengan lainnya. Ada yang hidup nomadik di darat yang di pimpin oleh gembala, dan ada yang hidup nomadik di laut di pimpin oleh pelaut;

“Tidak ada perselisihan, semua dewa berbagi secara adil sesuai dengan yang mereka inginkan, membangun rakyat dan memelihara manusia, menuntun dan mengatur seperti gembala atau pelaut-pelaut yang menyetir dari buritan  kapal.” (dialog Kritias)

Teori out of Africa juga menyatakan hal yang tidak jauh berbeda, bahwa manusia yang keluar dari Afrika terbagi dua, ada yang nomadik di darat dan satu lagi menelusuri pesisir Samudra India hingga ke Indonesia, lalu ke Papua dan Australia. Secara genetik [mtDNA] keduanya di golongkan dalam haplogroup M dan N dan penduduk bumi sekarang merupakan turunan-turunan dari kedua halogroup ini.

SUNGAI

Apa yang membuat kedua komunitas ini bertemu apalagi kalau bukan sungai, sumber kehidupan sekaligus konflik, dan ini tertulis dalam berbagai sejarah kuno seperti peradaban sungai Nil (Mesir), peradaban dua sungai (Mesopotamia), sungai Mekong, sungai Merah, sungai Danube, dan sebagainya. Di dalam kisah Atlantis juga tidak jauh berbeda, leluhur Yunani dan Mesir masing-masing bermukim di gunung dan pesisir negeri Atlantis.

Bahkan legenda bencana Toba juga memulai kisahnya dari sebuah sungai, sumber kehidupan sekaligus pertemuan dan perkawinan antara dua komunitas yang berbeda kemudian melahirkan komunitas baru yang sifatnya merusak, mengindahkan tatanan dan kearifan yang sudah ada, hingga timbul bencana besar menyisakan danau Toba dan pulau Samosir.

Letusan Toba adalah letusan supervolkano terhebat sepanjang sejarah manusia modern dengan kategori mega-kolosal. Kaldera danau Toba sendiri terbentuk setidaknya dari tiga letusan. Yang pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu, yang kedua terjadi sekitar 500 ribu tahun lalu. Dan terakhir sekaligus terdasyat, meruntuhkan seluruh gunung purba tersebut menghasilkan danau Toba sekarang, terjadi sekitar 70.000-75.000 tahun lalu. Sisa-sisa debu letusan Toba terekam hingga Kutub Utara dan Afrika Selatan. Bahkan deposit hingga setebal 15 cm menutupi Asia Selatan, dan satu lapisan abu vulkanik juga di temukan di Samudra India, laut Arabia, dan Laut China Selatan. Akibat dari letusan Toba di duga populasi manusia menurun drastis dan bumi mengalami penurunan suhu beberapa tahun.

Manusia yang bermukim di wilayah Indonesia tentu akan menjauhi Toba, terlebih lagi indikasi manusia tiba di Australia juga di mungkinkan sejak 70.000 tahun yang lalu atau sekitar 59.000-63.000 tahun yang lalu berdasarkan rangka manusia yang di temukan di sekitar danau purba Mungo (di usulkan oleh ANU, Australian National University) yang letaknya jauh di selatan Australia.

Mungo Man

Berdasarkan lingusitik, Johanna Nichols dalam bukunya yang berjudul Linguistic Diversity menulis bahwa “setelah timbul pada awalnya dari Afrika, lalu menyebar pelan-pelan ke Asia Tenggara dan mengalami banyak pemberagaman linguistik di sana, lalu orang-orang mulai menyebar dari sana untuk bermukim di Pasifik dan Dunia Baru”.

Dengan prinsip –bahasa adalah fossil lidah–, Arysio dos Santos ingin menunjukkan bahwa linguistik termasuk salah satu faktor penunjang penelitiannya. Selain menguasai sejarah Amerindian, Santos menguasai empat bahasa tertua di dunia yang masih terus di gunakan hingga saat ini; Dravida, Sansekerta, Yunani, dan Latin. Dua mewakili dunia barat, dan dua lagi dunia timur, dan masih tergolong dalam satu rumpun (Indo-Eropa). Hasilnya, ia memilah peradaban Atlantis menjadi dua, yang saling terkait satu dengan lain, dengan menggunakan istilah Atlantis-Ibu dan Atlantis-Putra. Menurutnya Atlantis-Ibu adalah peradaban sebelum letusan gunung Toba, sementara Atlantis-Putra atau “Putra Sang Perawan” adalah peradaban yang muncul setelah gunung Toba meletus.

Menurut Santos, apa yang terdapat di hampir semua tradisi di dunia sekarang ini berasal dari peradaban setelah letusan Toba atau Atlantis-Putra yang berawal di wilayah Indonesia. Ia juga tidak merasa heran jika Indonesia mempunyai –tragedi yang sama yang terjadi berulang-ulang–; “Adalah khas Indonesia…”, tulisnya.

 

***

——————————————————————————————————————————————

Referensi:

  • Ignatius Donelly: “Atlantis; The Antediluvian World” (1882)
  • Kompas: Senjata Tulang “Homo Soloensis” Di temukan, hal.12, Selasa, 14 Juni 2011
  • Plato: Dialogue Critias (360 SM)
  • Peter Hiscock: “Archaeology of Ancient Australia” (2008) Routledge-London
  • Johanna Nichols, Linguistic Diversity in Space in Time, Chicago University Press, 1992
  • Arysio dos Santos: Atlantis: The Lost Continent Finally Found (1998)
  • Stephen Oppenheimer: “Eden in the East” (1998)
  • Homo erectus soloensis – Wikipedia
  • Paleolithic – Wikipedia

——————————————————————————————————————————————

Bertanda , , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.